Jumat, 20 November 2020

Resensi Buku Nonfiksi

Ghirah Cemburu karena Allah

Identitas Buku

Judul Buku: Ghirah Cemburu karena Allah

Penulis Buku: Prof. Dr. Hamka (Buya Hamka)

Penerbit Buku: Gema Insani

Cetakan: I

Tebal Buku: 154 Halaman

Tahun Terbit: 2015

Ikhtisar

Ghirah bukan hanya milik orang Islam yang sering dicap fanatic oleh bangsa Barat karena kebertahanannya dalam menjaga muruah pada diri, keluarga, maupun agamanya. Namun, menjaga muruah atau syaraf (Arab) juga milik setiap jiwa manusia, tidak peduli agamanya apa.

Bahkan, setiap daerah atau Negara, sebetulnya, mempunyai istilah masing-masing dalam menyebutkan ghirah ini.

Ghirah juga dimiliki seorang cinta damai seperti Mahatma Gandhi –yang terkenal berpahaman luas dan berperikemanusiaan tinggi- yang sampai bersedia melakukan apa saja untuk mencegah adiknya Yawaharlal Nehru, Viyaya Lakshmi Pandit, dan anaknya, motial Gandhi, keluar dari agama Hindu.

Buya Hamka menjelaskan bahwa ghirah itu ada dua macam, yakni terhadap perempuan dan agama. Jika adik perempuanmu diganggu orang lain, lalu orang tersebut kamu pukul, itulah salah satu pertanda bahwa dalam dirimu masih ada ghirah.

Jika agamamu, nabimu, dan kitabmu dihina, kamu masih berdiam diri saja, jelaslah ghirah telah hilang dari dirimu.

Jika ghirah atau siri –dalam bahasa orang Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja- tidak dimiliki lagi oleh bangsa Indonesia, niscaya bangsa ini akan mudah dijajah oleh asing dalam segala sisi. Jika ghirah telah hilang dari hati, gantinya hanya satu, yaitu kain kafan! Sebab kehilangan ghirah sama dengan mati!

Kelebihan Buku

Sebagai seorang ulama yang dikenal jenius, Prof. Dr. (Buya) Hamka secara pintar membangkitkan semangat para pembaca untuk tidak kehilangan muruah / harga dirinya bila apa yang menjadi kecintaan dihina. Entah itu agama, keluarga, bahkan harga dirinya sendiri.

Buya Hamka secara gamblang memberikan contoh-contoh yang bersifat fakta dalam menyampaikan pesannya bahwa ghirah setiap manusia semakin hari semakin hilang. Buku ini sangat menohok sekali, dan sangat bagus untuk dibaca.

Kekurangan Buku

Latar belakang Buya sebagai orang minang, tertuang di buku ini. Sehingga ada beberapa diksi yang asing untuk didengar orang Indonesia yang tinggal di daerah lain. Susunan kalimat dan partikel yang kurang pas membuat pembaca kadang-kadang harus membaca ulang satu kalimat lengkap.

Senin, 02 November 2020

Rangkuman Bab 4 Bahasa Indonesia

(BAB 4) Buku Fiksi dan Nonfiksi


A. Menilai Isi Buku

     Apa yang perlu dinilai dari isi buku? Menilai atau menimbang baik buruknya isi buku bisa ditinjau dari berbagai segi/unsur.

    Tinjauan amanat cerpen: Di dalam sebuah cerita, gagasan itu mendasari seluruh cerita. Gagasan yang mendasari seluruh cerita ini dipertegas oleh pengarangnya melalui solusi bagi pokok persoalan itu.

Tinjuan nilai-nilai cerpen:

1. Nilai sosial

2. Nilai moral

3. Nilai agama

4. Nilai pendidikan

5. Nilai adat

B. Menyusun Laporan Hasil Membaca Buku

    Pengertian Unsur Intrinsik

    Intrinsik terdiri dari atas alur, tema, penokohan, sudut pandang, latar, dan amanat. Unsur-unsur intrinsik digunakan untuk menganalisis karya sastra. Unsur intrinsik adalah unsur yang menyusun sebuah karya sastra dari dalam yang mewujudkan struktur suatu karya sastra. 

Unsur-unsur Intrinsik:

a. Alur (plot)

b. Tema

c. Penokohan

d. Sudut Pandang (point of view)

e. Latar

f. Amanat


    Pengertian Unsur Ekstrinsik

    Unsur ekstrinsik adalah bagian atau komponen yang terdapat dalam sebuah karya sastra( cerpen, novel, puisi, lainnya) yang membentuk atau membangun sebuah karya sastra dari luar.

Unsur-unsur Ekstrinsik:

1. Latar belakang/biografi pengarang

2. Kondisi masyarakat dan lingkungan penulis

3. Nilai-nilai yang tersemat dalam karya sastra